Twitter milik pemain timnas Indonesia



Nama Timnas merah putih semakin populer setelah sukses mengalahkan Filipina. Di Twitter pun, akun mereka terus dicari. Inilah daftar pemain Timnas yang menggunakan Twitter. Di akun Twitter milik Bambang Pamungkas, Bepe20, pria kelahiran Semarang, 10 Juni 1980 ini menyebutkan sembilan akun rekan timnasnya di Twitter. Yaitu Markus Harison dengan akun Markusharison, Irfan Bachdim dengan IrfanBachdim10.

Kemudian Arif Suyono dengan arifsuyono, Ahmad Bustomi dengan Bustomi_19, Hamka Hamzah dengan Hamkahamzah23 dan Yongki Ariwibowo dengan yongki_ari. Selain itu, ada pula Johan Juansyah dengan juansyah_19. Bambang Pamungkas juga sempat menyebutkan akun Twitter ridwan_eng dan m_roby16. Tetapi, kedua akun Twitter ini tidak dapat dibuka.

Dari sepuluh pemain Timnas ini, Irfan Bachdim tetap unggul karena memiliki pengikut terbanyak, yaitu 223.491 orang. Sedangkan Markus Harison, kiper timnas yang baru saja menikah dengan artis Kiki Amalia, hanya memiliki 30.340 pengikut.

Berdasarkan pengamatan, akun Arif Suyono juga tak memiliki banyak follower,hanya 19.787. Hamkah Hamzah juga hanya memiliki 8.195 pengikut. Selain itu, Yongki Ari dengan 4.941 pengikut dan fans Juansyah berjumlah 1.633.

“Menang di lapangan, menang juga di Twitter. Hidup Timnas Indonesia,” tulis akun Twitter atas nama Sekarzidane.

“Kalau Indonesia jadi juara Piala AFF 2010, aku mau follow semua pemain timnas yang punya akun Twitter,” kata akun bernama _thyqha_.

Meskipun begitu, tidak semua pengguna Twitter mau mengetahui lebih banyak soal kehidupan anggota timnas Indonesia ini.

“Anggota timnas Indonesia punya akun Twitter. Ingin follow, tapi malas. Cukup Irfan Bachdim saja,” tulis akun Twitter Dhasyaxoxo. 
Sumber: var/inilah.com 
BACA SELENGKAPNYA

Ramang pemain sepak bola legendaris Indonesia



Pernah ada era dimana tim sepakbola Indonesia ditakuti di Asia, bahkan Eropa. Era dimana kecanggihan teknologi belum menjamah ranah olahraga. Era dimana kemampuan fisik masing-masing pemain lebih berperan dari formasi dan taktik. Di era itu, ada satu nama pesepakbola yang luar biasa. Salah satu bakat terpendam tanah air Indonesia yang kemampuannya diakui dunia. Dia adalah Ramang, pesepakbola asal Makassar yang namanya mengangkasa, dan terlupakan.

Ramang dilahirkan di Makassar, tahun 1928. Ayahnya, Nyo’lo, merupakan Ajudan raja Gowa Djondjong Karaenta Lemamparang yang dikenal sebagai jagoan sepak raga. Sejak kecil Ramang sudah terlihat mewarisi bakat ayahnya. Ia sering berlatih dengan seadanya. Bola anyaman rotan, gulungan kain, hingga buah jeruk kecil menjadi teman berlatihnya.

Pada tahun 1947, Ramang bergabung ke klub sepakbola Makassar Voetball Bond (MVB), yang kini dikenal dengan nama PSM Makassar. Sebelum bermain di klub besar tersebut, Ramang membela Persis (Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi). Bakatnya tersendus oleh scout dari PSM ketika memperkuat tim tersebut dalam sebuah turnamen yang diadakan oleh PSM. Ramang mencetak 7 gol dalam sebuah pertandingan dan membawa Persis menang 9-0 dalam kompetisi tersebut.

Tanpa menunggu lama, PSM segera mengontrak pemain bertubuh mungil tersebut. Hanya setahun di PSM, Ramang telah menjelajah ke seluruh penjuru daerah di Indonesia. Ketika ia kembali ke Makassar, seseorang menawarinya pekerjaan sebagai opas di Dinas Pekerjaan Umum. Gajinya hanya Rp.3500,- per bulan dan tidak pernah naik.

Namun Ramang menerimanya dengan hati terbuka. Maklum, ketika itu sepakbola belum dapat dijadikan mata pencaharian tetap. Pekerjaan sampingan Ramang sebelum dikontrak PSM adalah kernet dan tukang becak. Namun akhirnya ia meninggalkan dua pekerjaan tersebut, bukan karena gajinya di PSM mencukupi, namun ia lebih mencintai sepakbola. Hal tersebut membuat kehidupan Ramang yang saat itu sudah berkeluarga, sangat memprihatinkan. Keluarganya tinggal menumpang di rumah seorang teman.

Dukungan dari sang istri yang tabah dan setia membuat Ramang dapat fokus bermain bola. Sampai akhirnya bakat luar biasa Ramang membuatnya terpilih memperkuat tim nasional Indonesia (kala itu bernama tim PSSI) pada tahun 1952.

Prestasi Ramang di tingkat nasional amat cemerlang. Dirinya dikenal sebagai striker haus gol yang tak lelah bergerak ke segala arah dengan kecepatan tinggi sambil melepas tendangan dnegan akurasi tinggi. Pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, Muangthai, Malaysia) PSSI hampir menyapu seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Ketajaman Ramang membuat nama Indonesia disegani di tingkat sepakbola dunia. Beberapa tim terbaik dunia kala itu berebutan ingin menjajal kekuatan timnas Indonesia. Mulai dari Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara, salah satu kiper terbaik dunia waktu itu, klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Yashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein. Namun Ramang adalah pribadi yang rendah hati, ia mengatakan bahwa prestasi timnas kala itu tak lepas dari perjuangan rekan-rekannya, bukan dirinya semata.

Ramang adalah pesepakbola dengan bakat alami murni. Sebagai penyerang, ia kerap mencetak gol dari berbagai sudut, bahkan sudut mustahil dan sulit sekalipun. Permainannya pun cantik dipandang mata. Salah satu kemampuan khusus Ramang adalah tendensi dan presisi untuk melepaskan tembakan salto. Tak jarang ia merobek jala lawan dengan sepakan akrobatik yang aduhai. Satu di antaranya yang paling diingat adalah saat PSSI mengalahkan RRC dengan skor 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari kaki Ramang, satu di antaranya tembakan salto.

Kehebatan Ramang di lapangan bola membuat seluruh Indonesia mengenalnya. Bahkan pada era akhir 50 an, banyak ibu-ibu menamakan anak mereka ‘Ramang’. Pertandingan paling berkesan adalah ketika Indonesia bertemu Uni-Soviet di Olimpiade Melbourne 1956. Kala itu Uni-Soviet memegang predikat sebagai salah satu raja sepakbola dunia, dengan pertahanan yang dipegang kiper legendaris Lev Yashin. Hebatnya, Indonesia berhasil menahan tim tersebut dengan skor kacamata. Ramang bahkan hampir saja mempermalukan Uni-Soviet dengan mencetak gol, namun gagal karena bajunya ditarik pemain belakang lawan sebelum sempat menendang bola.

Namun waktu terus berjalan, roda kehidupan terus berputar. Untuk Ramang, singkat saja dirinya berada di puncak kejayaan. Sinarnya semakin suram setelah dirinya terkena hukuman skors pada tahun 1960. Pria sederhana ini divonis menerima suap. Ketika dipanggil kembali pada tahun 1962, sinarnya telah pudar. Ramang akhirnya pensiun total dari sepakbola pada tahun 1968 dalam usia 40 tahun. Klub terakhir yang dibelanya adalah PSM Makassar.

Namun Ramang tidak meninggalkan lapangan hijau. Ia kembali sebagai pelatih dan sempat membawa tim Persipal Palu menjadi tim yang disegani di Indonesia. Ramang juga pernah melatih klub yang membesarkan namanya, PSM Makassar (sampai sekarang, salah satu julukan PSM Makassar adalah ‘Pasukan Ramang’). Namun ternyata dunia kepelatihan terlalu kejam untuk Ramang. Ia disingkirkan secara perlahan dari dunia itu hanya karena tidak memiliki ijazah kepelatihan. Padahal racikannya yang bermaterikan pengalaman pribadi dan teori yang didapatnya dari pelatih timnas PSSI Tony Pogacnick berhasil membuat jeri lawan-lawan tim yang dilatihnya. Ramang tetap menerima semua hal itu dengan lapang dada. Untungnya lagi, ia tidak sampai harus berhenti menggeluti dunia yang dicintainya karena gosip miring tersebut.

Ramang di masa tuanya

Pada tahun 1981, setelah melatih anak-anak PSM di bawah hujan, Ramang sakit. Selama enam tahun ia berjuang melawan sakit radang paru-paru yang dideritanya tanpa mampu berobat ke Rumah Sakit. Ramang memang hidup amat sederhana pada masa tuanya. Karena sekali lagi, gaji seorang pelatih bola waktu itu tidak bisa dijadikan penopang seseorang yang telah berkeluarga. Ramang hanya jebolan Sekolah Rakyat, tanpa ijazah, semua jadi sulit.

Pada tahun 1987, salah satu legenda terbesar sepakbola Indonesia ini wafat di kediamannya yang sangat sederhana. Ia menghuni rumah kecil tersebut bersama anak, menantu dan cucunya, semua berjumlah 19 orang.


Patung Ramang yang sederhana

Sekarang, yang cukup menyedihkan, nama Ramang seakan sudah terhapus dari ingatan masyarakat Indonesia. Tenggelam di bawah nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Bambang Pamungkas, dan Irfan Bachdim. Satu-satunya pengingat orang-orang akan keberadaannya hanyalah sebuah patung sederhana di pintu utara lapangan Karebosi, Makassar.

Mari kita kenang kembali keberadaan mereka yang pernah mengangkat nama Indonesia di mata dunia pada suatu era, walaupun hanya lewat sepakbola. 
Sumber: beritaunik.net
BACA SELENGKAPNYA

Gitar canggih tanpa senar


Misa Digital Kitara adalah gitar stringless yang memberi Anda tampilan multitouch canggih daripada menekan tombol untuk memodifikasi output dari input digital. Hal ini jugamerupakan sebuah alat synthesizer onboard. Anda juga dapat menghubungkannya dengan peralatan audio Anda untuk tujuan latihan dan percobaan.

This is Kinect of electronic music – just needs a few inventive souls too harness its potential properly. You can buy it in just US $849 which i think is good enough for the kind of features that Kitara provides.




Sumber: beritaunik.net
BACA SELENGKAPNYA

Benteng terbang, top secret proyek Rusia


Pada tahun 1930-an tentara Uni Soviet mempunyai gagasan untuk menciptakan ‘benteng terbang’ lengkap dengan persenjataanya. Pada waktu itu mesin jet belum ditemukan, sehingga pesawat dirancang memiliki sebanyak mungkin baling-baling untuk membawa terbang benteng besar tersebut ke udara. Sebanyak 25 baling-baling dipasang ke pesawat tersebut!

Tidak banyak foto yang disimpan mengenai pesawat ini, karena tingginya tingkat kerahasiaan proyek . Seperti pada foto-foto di bawah ini dapat dilihat salah satu dari pesawat tersebut – Heavy Bomber K-7 seperti dikutip dari englishrussiacom .

Sekarang ini pecinta sejarah modern di Rusia (dulu Uni Sovyet) mencoba untuk merekonstruksi kembali rencana yang tersisa yang pernah menjadi top secret tentara Rusia tersebut. Rencana yang terbilang Mega Proyek namun dengan gagasan yang cukup brilian, disebut Benteng Terbang! 







Dapat dibayangkan jika pesawat ini diciptakan massal pada waktu itu, tentara Soviet tentu akan sangat mudah untuk mendistribusikan perlengkapan tempurnya kemanapun. Pesawat yang unik dan benar-benar benteng yang dapat terbang ya!
Sumber: beritaunik.net 
BACA SELENGKAPNYA

Christian Gonzales, sosok yang taat beribadah


Seorang Cristian Gonzales memang pemberani di lapangan hijau. Bomber Timnas Indonesia itu tak takut apapun, kecuali satu. Apa itu?

Pemain yang kini bergabung bersama klub sepak bola Persib Bandung itu memang dikenal tangguh saat berduel berebut bola, siapapun lawannya tak gentar ia hadapi. Termasuk terhadap pemain Tim Nasional Filipina, lawan yang akan ia hadapi di leg kedua semifinal Piala AFF 2010, Minggu (19/12/2010). Tak satu pun dari para pemain The Azkals yang dia takuti.

“Aku tidak takut siapapun. Aku cuma takut Tuhan,” ujarnya mantap kepada wartawan seusai latihan sore di Lapangan C Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jumat (17/12/2010) petang.

Meski berjuluk El Loco alias Si Gila, pemain yang dikenal garang di atas rumput ini memang seorang yang religius. Gonzales selalu mengawali setiap pertandingan dengan berdoa.

“Saya tak pernah lupa akan ibadah,” jawabnya ketika ditanya kewajibannya menjalankan sholat lima waktu selama Piala AFF ini digelar. [nic]
Sumber: inilah.com
BACA SELENGKAPNYA

Sejarah pohon natal yang harus diketahui



Budaya memasang pohon Natal sebagai dekorasi dimulai dari Jerman. Pemasangan pohon Natal yang umumnya dari pohon cemara, atau mengadaptasi bentuk pohon cemara, itu dimulai pada abad ke-16. Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah. Dari catatan yang ada, orang Jerman di Pennsylvania Amerika Serikat memajang pohon Natal untuk pertama kalinya pada tahun 1830-an.

Pohon Natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun di rumah sebab ini hanya merupakan simbol agar kehidupan rohani kita selalu berkembang dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain “evergreen”. Pohon Natal (cemara) ini juga melambangkan “hidup abadi”, karena pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara selalu hijau daunnya.

Pemasangan pohon cemara, baik asli maupun yang terbuat dari plastik, di tengah kota atau di tempat-tempat umum pun menjadi pemandangan umum menjelang Natal. Salah satu yang terbesar adalah pohon yang ada di Rockefeller Center di 5th Avenue New York Amerika Serikat.

Legenda

Ada beberapa legenda atau cerita di kalangan orang Kristen sendiri mengenai asal usul pohon natal.

Pengalaman “supranatural” Santo Bonifacius

Menurut sebuah legenda, ada seorang rohaniawan Inggris bernama Santo Bonifacius yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis. Suatu hari dalam perjalanannya dia bertemu dengan sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon oak. Untuk menghentikan perbuatan mereka, secara ajaib St. Boniface merobohkan pohon oak tersebut dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang menakjubkan tersebut di tempat pohon oak yang roboh tumbuhlah sebuah pohon cemara. 


Martin Luther dan pohon cemaranya

Cerita lain juga mengaitkan kejadian saat Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam. Terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut.

Kontroversi

Terlepas dari kebenaran kisah-kisah di atas, hingga saat ini pemasangan Pohon Natal masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Kristen. Bagi orang-orang yang tidak berkenan dengan pohon Natal, mengisahkan bahwa pada zaman dahulu bangsa Romawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan Saturnalia, mereka menghiasinya dengan hiasan-hiasan kecil dan topeng-topeng kecil, karena pada tgl 25 Desember ini adalah hari kelahiran dewa matahari, Mithras, yang asal mulanya dari Dewa Matahari Iran yang kemudian dipuja di Roma. Demikian pula hari Minggu adalah hari untuk menyembah dewa matahari sesuai dari arti kata Zondag, Sunday atau Sonntag. Perlu diketahui juga bahwa dewa-dewa matahari lainnya, seperti Osiris, dewa matahari orang Mesir, dilahirkan pada tanggal 27 Desember. Demikian pula Dewa matahari Horus dan Apollo lahir pada tanggal 28 Desember.

Maka dari itu ada aliran-aliran gereja tertentu yang mengharamkan tradisi pohon Natal, sebab mereka menganggap ini sebagai pemujaan dewa matahari. Pemasangan pohon itu dianggap sebagai bentuk penyembahan berhala. Reaksi penolakan itu bahkan awalnya sempat diwarnai keputusan pemerintah Jerman untuk mendenda siapa pun yang memasang pohon cemara sebagai pohon Natal.

Hal itu mulai berubah, saat gambar Ratu Victoria dari Inggris, Pangeran Albert dari Jerman, dan anak-anaknya dengan latar pohon cemara, dideskripsikan di London News. Karena sosok Victoria yang sangat top, pemuatan gambar itu di media massa pun membuat pohon cemara menjadi pilihan lazim sebagai pohon Natal.

Tradisi dan Kultur

Setelah masyarakat AS mengikuti jejak Inggris menggunakan pohon cemara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, industri pun semakin berkembang dan melmnda ke berbagai negara. Termasuk berbagai hiasan pohon Natal seperti bola-bola yang digantung, pernak-pernik Santa Claus, tinsel (semacam tali berumbai yang dililitkan ke pohon), dan lainnya.

Karena penggunaan pohon cemara merupakan tradisi Eropa, ekspresi sukacita yang dilambangkan dengan berbagai dekorasi itu berbeda-beda di setiap negara. Indonesia dan Filipina menjadi negara yang sangat terpengaruh tradisi Eropa itu sampai akhirnya para umat Kristen membeli pohon buatan tapi yang penting berbentuk cemara. Di Afrika Selatan keberadaan pohon Natal bukanlah sesuatu yang umum. Sementara masyarakat India, lebih memilih pohon mangga dan pohon pisang.
Sumber: beritaunik.net 
BACA SELENGKAPNYA

Ilmuwan Indonesia harus meniru ilmuwan dari Jepang



Ilmuwan China membuktikan bisa sukses di negaranya daripada bertahan di AS. Ini bisa jadi inspirasi bagi ilmuwan RI di luar negeri yang saat ini berkumpul di Jakarta. Kehidupan imigran Sheng Huizhen termasuk sukses di Amerika Serikat (AS). Ia mendapat gelar PhD di bidang Biokimia, dan mendapat pekerjaan sebagai peneliti postdoctoral di National Institute of Health.

Ia mendapat green card atau kartu izin tinggal di AS. Kemudian ia membeli rumah di Maryland dan akhirnya mendapat posisi bergengsi sebagai staf ilmuwan. Namun, akhirnya ia kembali ke China. Hukum federal AS melarang penggunaan uang publik untuk riset embrio manusia, dan hal ini mencegahnya melakukan apa yang diinginkanya. Pemerintah China menggodanya agar mau kembali ke China dengan uang sebesar US$ 875 ribu (Rp 7,9 miliar).

Uang tersebutdigunakan untuk laboratorium baru tempatnya dalam melakukan penelitian. “Karena perbedaan kultur dan latar agama, publik China lebih bersahabat mengenai riset embrio,” kata Sheng 55 tahun yang keluarganya tetap tinggal di AS.

Hal ini dilakukan pemerintah China guna mendorong batas-batas inovasi dan apa yang diterima dalam ilmu kedokteran. Ilmuwan China lain yang juga kembali ke negerinya adalah Jiang He, 50. Jiang merupakan peneliti National Heart, Lung, and Blood Institute.

Kini, mantan warga Potomac ini menjadi CEO Frontier Biotechnologies di pusat kota metropolitan Chongqing. Perusahaan ini mengembangkan produk anti-HIV. “Jika saya memulainya di AS, saya butuh waktu lama mencari pendanaan,” kata Jiang.

“Saya mungkin hanya akan mendapat beberapa ratus dolar dan hanya mampu mempekerjakan sepasang ilmuwan. Di China saya memiliki 30-40 pegawai”.

Inilah Ilmuwan yang Berjasa Mentransformasi China


Transformasi China terjadi di segala bidang. Hal tersebut terpicu para ilmuwan yang kembali setelah menuntut ilmu di Amerika Serikat (AS). Banyak ilmuwan Negeri Panda menganggap bakat ilmiah dan lingkungan di AS merupakan terbaik di dunia. Di antara ilmuwan itu terdapat beberapa nama yang mentransformasi China.

Jian He, 50 tahun, merupakan peneliti di National Heart, Lung, and Blood National Institutes of Health (NIH) hingga 1999. Kini, mantan warga Potomac ini menjadi CEO Frontier Biotechnologies di pusat kota metropolitan Chingqing. Perusahaan ini mengembangkan produk anti-HIV.

Ni Jian, 44 tahun, merupakan peneliti tumor di NIH dan menjadi ilmuwan di Human Genome Sciences di Rockville. Kini, ia menjadi kepala Human Antibodomics, perusahaan di timur Suzhou yang mengembangkan antibodi untuk kanker.  Jin Lei, 54 tahun, berada di AS selama delapan tahun di NIH di North Carolina. Ia kembali ke China pada 2001 untuk melakukan penelitian pada katup jantung bioprosthetic. Kemudian, ia membangun Beijing Biren Medical Technology.

Masih banyak ilmuwan China yang kembali ke negara asalnya untuk membangun China. Alasannya, tak bisa menolak tawaran yang ditawarkan negara itu. Yakni biaya hidup murah, akses mudah ke materi klinik, pendanaan pemerintah dan kolaborasi di segala bidang.

India Gagal Bujuk Ilmuwan Pulang Kampung

Berbeda dengan China, India gagal menarik ilmuwannya yang belajar di luar negeri. Ilmuwan berpendidikan barat itu terlihat seperti orang India, namun berpikiran Amerika. Ilmuwan dan dosen Institute Massachusetts Shiva Ayyadurai dan keluarganya hampir 40 tahun lebih tinggal di Amerika Serikat (AS). Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk kembali ke India untuk membantu negaranya.

Pada bulan Juni, Ayyadurai pindah dari Boston ke New Delhi untuk menepati janjinya. Bermodal ijazah dari AS, ia terpancing program ambisius pemerintah untuk menarik para ilmuwan berbakat melalui program Desi Diaspora kembali ke tanah air.

”Tampak sempurna,” katanya. “Namun yang terjadi adalah kebalikannya,” tambahnya. Kini, Ayyadurai mengetahui penyebabnya, pendidikan bisnis baratnya jika dipertemukan dengan pemerintahan buram dan tak efisien India akan menemui ketidakcocokan. Karenanya, Ayyadurai kembali ke Boston.

Hasil penelitian Harvard University Vivek Wadhwa dan akademisi lain menemukan 34% returnee sulit kembali ke India. Returnee mengeluhkan lalu lintas India, kurangnya infrastruktur, birokrasi dan polusi. Bagi banyak returnee, kesempatan melakukan hal baik dibayangi budaya tempat kerja yang terasa asing, bahkan membuat frustasi. Terkadang, returnee merasa lebih cocok dengan sikap dan cara pandang orang Amerika atau Inggris. Bahkan, beberapa returnee tinggal beberapa bulan di India, kemudian kembali ke Barat.

Managing partner firma pencarian eksekutif global Spencer Stuart India, Anjali Bansal menyatakan returnee mengalami hambatan karena mereka ‘terlihat seperti orang India namun berpikiran Amerika’. Orang berharap mereka mengetahui negara mereka karena penampilan mereka, namun mereka tak terbiasa dengan cara kerja di India.

”India cukup ambigu dan memiliki cara kerja yang kacau,” kata Bansal. “Saya sering mendengar mereka mengatakan ‘Ini sangat tak efisien dan tak profesional’”.
Sumber: beritaunik.net 
BACA SELENGKAPNYA

Rekonstruksi Golde Jet, model pesawat dari suatu temuan artifak kuno


Artifak Golden Jets diduga merupakan sebuah desain mesin terbang yang dibuat oleh peradaban masa lalu. Beberapa ahli tertarik untuk mempelajari artifak ini, apakah memang benar benda tersebut merupakan rancangan mesin terbang ataukah hanya sebuah perhiasan yang ditinggalkan oleh bangsa Pra-Kolombia? 


Setelah sekian lama diteliti, Golden Jets merupakan artifak peninggalan bangsa Maya, meskipun terdapat unsur dari kebudayaan Inca di artifak tersebut. Dua insinyur dari Jerman yang bernama Algund Eenboom dan Peter Belting telah meneliti artifak ini dan membuat sebuah replika untuk mengujinya. Mereka membuat replika dengan bentuk yang sama persis dengan artifak tersebut tanpa menambahkan bagian apapun kecuali mesin tentunya. Lalu, pada event Ancient Astronaut Society World Conference pada tahun 1997 di Orlando, Florida, mereka melakukan tes terhadap replika yang mereka buat. 


Sebelum dua insinyur tersebut menguji replika golden jets mereka, seorang ilmuwan bernama Richard Hoagland bersama timnya juga telah meneliti artifak tersebut. Awalnya ia dan timnya tidak yakin jika desain artifak tersebut bisa membuatnya terbang, karena bentuknya yang tampak tidak aerodinamis, namun mereka kemudian melanjutkan penelitian mereka setelah dua insinyur dari Jerman tersebut berhasil membuat replikanya dengan sempurna. 


Menurut para peneliti, mungkin bentuk dari artifak ini mencontoh dari salah satu jenis serangga, mengingat bentuk sayapnya agak menyerupai serangga, namun peneliti tidak dapat memberikan keterangan mengenai jenis serangga yang dimaksud. 


Kembali kepada dua insinyur asal Jerman ini, mereka meneliti segala detail dari artifak ini dan membuat replika semirip mungkin dengan aslinya. Mereka membuat replika Golden Jets dengan menggunakan bahan dari kayu.

Sebagai mesin pendorongnya, Algund dan Peter menggunakan motor listrik dan kendalinya menggunakan remote control, hampir mirip dengan aeromodelling. Mereka membuat dua replika dengan konstruksi mesin yang berbeda, yang satu menggunakan baling-baling di bagian depan, sedangkan yang satunya menggunakan prinsip cara kerja seperti dengan mesin jet.

Berikut adalah dokumentasi uji coba penerbangan replika Golden Jets : 







Dalam tes yang dilakukan oleh tim penguji, pesawat replika tersebut mampu lepas landas, dan melakukan manuver yang sulit dibayangkan sebelumnya, bahkan mendarat dengan mulus. Sungguh sulit dibayangkan jika desain benda tersbeut berasal dari peradaban masa lampau. Jika Golden Jets berhasil terbang dengan sukses, lalu mengapa hal yang sama tidak terjadi pada replika Saqqara Bird? Menurut Algund dan Peter, hal tersebut karena konsep desain keduanya sangatlah berbeda.

Pada Golden Jets, kedua insinyur tersebut mengatakan jika bentuk artifak tersebut mengacu kepada bentuk tubuh serangga, ini dilihat dari segi aerodinamis. Saya tidak begitu paham dengan dunia penerbangan, namun yang jelas, golden jets menunjukkan konstruksi yang sempurna untuk memungkinkannya terbang dan hal ini tidak ditemukan pada Saqqara Bird, itulah ide dua insinyur tersebut. 


Mungkin percobaan diatas memang membuktikan bahwa replika Golden Jets mampu terbang dengan baik, namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apakah Golden Jets bisa terbang tanpa menggunakan mesin?

Lalu, bagaimana dengan desain yang lain, apakah juga bisa terbang jika dibuat replikanya? Itulah sebagian dari pertanyaan yang belum terjawab dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, jadi kita tunggu saja bagaimana hasilnya.
Sumber : disclose.tv / vahn-saryu1.blogspot.com
BACA SELENGKAPNYA